RIMA ARTICLES

BINGUNG CARI TEMPAT LIBURAN? CARI TAHU SELENGKAPNYA DI "PESONA AIR TERJUN KEDUNG PEDUT " | JANGAN LUPA SHARE DAN KOMEN TERIMA KASIH | KRITIK DAN SARAN SANGAT DIPERLUKAN

Kebun Mbah Putri

Kebun Mbah Putri Kebun Mbah Putri Kebun Mbah Putri Kebun Mbah Putri  
Sumber foto : Pexels / Reto Bürkler
“Bila ingin bertemu dengan nenekku, datanglah ke kebun daerah Sragen, Solo. Mentari memandang deretan rumah-rumah kayu disebuah desa di Solo. Air sungai mengalir seraya menjauhi sumber mata air. Setiap pagi terlihat seorang nenek mengambil air yang digunakan untuk menyirami kebun miliknya.” 
Kini pandangan mentari beralih pada rumah kayu kecil tepat di samping kebun. Sinarnya mengetuk pintu tua dan tanpa izin masuk lewat sela-sela pintu dan jendela. Suara ayam berkokok bersautan seperti ingin membangunkan nenek ini. Betul, dia adalah nenekku. 

Namanya mbah Suprapti. Aku biasa memanggilnya ‘Mbah Putri’. Kendati usianya yang tua, ia memiliki ingatan yang cukup kuat dan akurat. Kaki kecilnya tak pernah lelah melangkah menyusuri kebun untuk bercocok tanam. Tangan yang keriput namun masih lihai mencangkul tanah dan dengan telaten menaruh benih biji-bijian dari tanah yang dicangkulnya. Walaupun rambutnya memutih karena usianya yang sudah tua, tetapi semangatnya seakan tak pernah tua. 

Hari itu begitu cerah, embun pagi membasahi rumput dan dedaunan di kebun. Dinginnya pagi sangat terasa. Lama-kelamaan dinginnya pagi mulai bercampur dengan teriknya mentari. Angin berhembus kencang sehingga panas mentari tak begitu terasa terik di tubuh.  

Waktu sudah menunjukkan pukul 7:00. Nenek yang tinggal seorang diri seperti biasa memasak sarapan dan bekal untuk berkebun. Terdapat saung kecil dengan atap dari daun kelapa kering yang ditumpuk di atap saung dekat kebun tempat nenekku bercocok tanam. Saung kayu dengan alas yang juga terbuat dari kayu dan tambalan dinding tripleks pada bagian belakang serta kanan dan kiri saung. Luas saung 1x1,5 meter persegi. Tikar rajut dari bahan plastik melapisi alas tempat nenek berteduh. 

Kebun nenekku ditanami berbagai tumbuhan. Mulai dari cabai, bawang-bawangan, kacangkacangan hingga buah-buahan pun ia tanam. Nenekku berkebun untuk dipanen dan dijual lagi ke pasar. 

Hari mulai siang dan matahari mulai meninggi. Bulir demi bulir keringatnya pun mulai berjatuhan dari dahinya yang bertatapan langsung dengan sang mentari. Terkadang jika ia merasa lelah, ia akan beristirahat di saung dekat kebun sambil memakan bekal dan meneguk air minum yang dibawanya. 

Teriknya mentari beranjak pergi bergantian dengan senja yang menghampiri. Nenek mulai membereskan alat berkebunnya dan bersiap untuk pulang ke rumah. Jarak kebun ke rumah tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Senyumnya selalu terukir di wajahnya yang mulai keriput kepada setiap orang yang ia temui di desa. Suara lantunan ayat-ayat suci menjadi teman perjalanan pulangnya.  

Tak lupa setiap malam sehabis sholat ia duduk berdoa diatas sajadah tua miliknya. Ditemani lampu dengan cahaya berwarna kuning dengan penerangan yang tidak begitu terang, sekiranya cukup untuk menerangi tubuh dan sajadah tua nya. Suara jangkrik saling bersautan seakan memecah kesunyian malam. Nenek selalu berharap bisa berkumpul dengan anak cucunya saat lebaran tiba. 

Tak lupa nenek berdoa agar anak cucunya bisa menjadi orang yang sukses kelak dan selalu berbaik hati kepada siapapun. “Mbah pengen anak cucu semua menjadi orang yang sukses, orang yang pinter, lebaran selalu semua pulang kumpul di kampung.”, kata Mbah kepada anak cucunya lebaran tahun lalu. 

0 Komentar